Musik

Thursday, November 21, 2013


Cerpen

This is My Story

Sebelum bersekolah di SMA Budi Luhur, aku bersekolah di SMP 176 Jakarta. Awal masuk sekolah aku berkenalan dengan seorang cewek. Cewek itu bernama Tri Wahyuni Suharyati yang akrab di sapa Yuni. Sepanjang hari di sekolah, aku selalu bermain bersama dia. Dia adalah teman yang baik. Dia sangat mudah bergaul, dan dia adalah cewek yang  pandai.
Suatu hari, aku sedang ada tugas bahasa inggris. Aku pun bertanya kepadanya karena aku tahu bahwa dia pintar bahasa inggris.
“ Yuni, ini gimana cara ngerjainnya?”  tanya aku padanya.
“ Aku ga tau, kamu tanya yang lain aja.” jawab yuni.
Sejenak aku mulai termenung dengan ucapan Yuni, apa dia tidak menganggapku teman lagi. Sehingga dengan mudah dia menjawab seperti itu. Padahal dia mengerti bagaimana cara mengerjakannya. Sejak kejadian itu, aku perlahan mulai menjauhinya. Aku juga tidak mau berbicara dengannya. Bahkan aku pun tidak mau menyapanya. Aku sudah terlanjur marah padanya. Akhirnya, aku mulai mencari teman baru. Dan aku berkenalan dengan seorang cewek bernama Aditya Dwi. Akrab disapa Dita.
“ Hey, boleh kenalan gak? Aku Zulia. Kamu siapa?” sapa aku pada Dita.
“ Hey juga. Boleh kok. Aku Aditya, akrab di panggil Dita.” jawab Dita
Aku dan Dita berteman baik. Dita adalah seorang teman yang baik. Dia tidak pelit dan dia mau mengajarkan aku jika aku tidak mengerti apa yang disampaikan guru di kelas. Setiap hari kami selalu bersama. Selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Terkadang aku yang menjemputnya. Aku dan dia selalu menghabiskan waktu bersama. 
Pada suatu hari, kami diberi tugas untuk membuat mading di sekolah.  Kami berdua menjadi satu kelompok. Kami mengerjakan tugas itu bersama-sama. Kami membeli bahan-bahannya bersama. Kami membuat designnya bersama. Hingga hasilnya pun sangat memuaskan. Kelompok kami pun menjadi juara 1 membuat mading antar kelas dengan tema “Hari Pendidikan”.
Hingga pada suatu ketika, ujian kenaikan kelas pun tiba. Dita naik ke kelas 8 C sedangkan aku naik ke kelas 8 D. Awalnya kita tetap saling bersama. Tetapi seiring berjalannya waktu, kami semakin menjauh. Dita seorang yang mudah marah, dan aku selalu buat salah. Saat pulang sekolah, aku lupa menjemputnya di kelas karena aku pulang bersama teman-teman di kelas 8 D. Keesokan harinya, Dita tidak ingin berbicara dengan ku lagi karena dia marah aku sudah meninggalkannya. 
Lambat laun masalah itu terus berkelanjutan. Dita semakin menjauhi ku. Dia lebih memilih bermain dengan teman-teman barunya  di kelas 8 C. Dia sudah melupakanku dan melupakan pertemanan kita dulu. Dia sudah tidak mau pulang bersama ku lagi.
 Karena dia bertindak seperti itu, dan aku pun lelah mendekatinya kembali dengan hasil kosong. Aku pun mulai bermain dengan teman-temanku di kelas 8D. Aku bermain dengan Yuni yang dulu aku jauhi karena dulu aku berpikir bahwa dia itu jahat. Ternyata aku salah. Setelah kami  semakin dekat, aku pun baru menyadari bahwa Yuni tidak seperti yang aku kira. Yuni itu teman yang baik, berpikir luas dan tidak mudah marah seperti Dita. Dia sangat humoris, aku pun nyaman bermain dengannya.
Aku dan dia selalu bermain bersama, pulang sekolah bersama, mengerjakan tugas bersama, dan praktikum bersama. Aku dan dia sering duduk bersama jika teman sebangku kami tidak masuk sekolah. Atau kami bertukar tempat dengan teman sebangku kami agar aku dan Yuni duduk bersama.
Aku dan dia sering curhat tentang orng yang kami sukai di kelas 8. Saat itu, Yuni menyukai seorang cowok bernama Bagus. Dan aku menyukai seorang cowok bernama Alby. Yuni memberikan perhatian lebih pada Bagus. Tetapi bagus tidak kunjung  “peka”  dengan semua perhatian yang Yuni berikan. Sedangkan aku yang suka dengan Alby tidak terlalu menunjukan bahwa aku suka dengannya. Alby adalah cowok yang manis, baik, pintar, lucu, tetapi dia sangat pendiam.
Karena aku dan Yuni sering sekali main ledek-ledekan . Pada akhirnya para cowok pun mengetahui. Memang mereka para cowok mengetahui rasa suka kami. Tetapi rasa suka kami tidak terbalaskan. Kami pun mencoba melupakan mereka.
Selama kurang lebih 11 bulan kami di kelas 8. Ujian semester 2 pun tiba. Aku naik ke kelas 9C, sedangkan Yuni naik ke kelas 9A. Meskipun kami beda kelas, kami tetap selalu bersama. Kemanapun kami selalu bersama biarpun terkadang salah satu antara kami harus menyelesaikan tugas di kelas kami tetap saling menunggu.
Beberapa minggu kemudian, aku dikenalkan dengan beberapa orang teman di kelasnya. Dan salah seorang temannya yang juga teman lamaku di saat aku SD. Nama cewek yang dulu menjadi temanku sewaktu SD adalah Dika. Dan yang lainnya aku tidak mengenal mereka sebelumnya.
“ Zul, nih kenalin teman aku di kelas, baik kok anaknya.” ujar Yuni dengan menggandeng tangan teman barunya.
“ Oh, iya Yun. Kenalin aku Zulia. Kamu ?” jawabku sambil mengangkat tanganku di hadapan temannya.
“ Aku Atika, panggil aja Tika.” jawab teman baru Yuni itu.
“ Nih ada satu lagi. Pacarnya Jae tuh Zul.” sahut Yuni setelah melihat aku dan Tika berjabat tangan.
“  Hai, aku Sarah.” jawab temannya yang satu lagi.
“ Hai juga, aku Zulia.” sahut aku atas perkenalannya itu.
Yuni juga mengenalkan satu temannya sejak dia SD. Nama temannya itu Dian. Dia baik, lucu, meski terkadang dia alay. Tapi dia tetap teman yang baik menurut ku.
Sejak perkenalan itu, kami pun menjadi teman baik. Kemanapun kami pergi selalu bersama. Pada akhirnya, aku, Yuni, Tika, Dika, Dian dan Sarah bersahabat. Hingga pada suatu hari, Yuni bercerita pada kami bahwa di kelasnya ada seorang cowok yang disukainya. Nama cowok itu Ardea. Ardea itu cowok yang baik, lucu tetapi tetap saja semua cowok itu sama, sama-sama tidak “Peka”.
Berkali-kali aku, Dika, Tika dan Sarah mengejeknya dengan frontal memberitahu bahwa Yuni menyukainya. Tapi tanggapannya hanya datar saja.
“ Apaan sih lo. Gosip aja lo.” jawab Ardea dengan raut wajah yang datar.
“ Tau nih, apaan sih kamu pada, jangan frontal kenapa ih, gaenak sama Ardeanya.” tambah Yuni atas jawaban dari Ardea.
“ Yaelah, gausah malu-malu. Kalau emang suka mah bilang Yun, ntar keburu diambil orang baru nyesel.” ujar Tika.
Beberapa hari kemudian, kami mengetahui bahwa Ardea sudah memiliki pacar. Pacarnya itu adik kelas kami. Kami mengenal baik pacarnya itu. Mendengar hal itu, Yuni tetap saja menyukai cowok itu. Hingga pada saat UN tiba, Yuni tetap saja memberikan perhatiannya pada cowok itu. Setelah UN, seluruh anak kelas 9 mengadakan perpisahan sekolah. Tujuan kami ke sebuah tempat yang sangat indah. Tujuan pertama kami yaitu Ciwidey di daerah Bandung.
Disana kami menginap di beberapa vila yang telah disiapkan oleh para panitia. Aku dan teman-temanku berpisah disana. Karena kami berbeda kamar. Aku satu kamar dengan sahabatnya Ardea yang juga pernah menjadi pacarnya Ardea. Nama sahabatnya itu Lidyawati yang biasa di sapa Lilid. Di kamar itu aku juga sekamar dengan teman-teman Lilid.
Malam pun tiba, kami seluruh rombongan berkumpul di sebuah kolam yang disediakan disertai api unggun di tengah-tengah taman. Disana aku dan Yuni melihat Ardea memakan semangkuk bakso bersama Lilid. Lilid disuapi bakso oleh Ardea. Melihat kejadian itu, aku dan Yuni memotret saat kejadian itu.
“ Yun, foto Yun foto. Bakal jadi berita hot nih.” aku mengajak Yuni untuk memotret kejadian itu.
“ Ide bagus tuh, ayulah foto, HP mana HP.” sahut Yuni dengan cepat.
Setelah memotret kejadian itu, aku menyimpan foto mereka di memori kameraku. Suasana semakin larut, kami beserta rombongan segera kembali ke kamar. Setelah sampai di kamar masing-masing kelompok, aku mendengarkan perbincangan antar Lilid dengan teman-temannya.
            “ Lid, gimana tadi disuapin Ardea?” tanya salah satu temannya.
            “ Aapaan sih lu, seneng sih, hahaha.” jawab Lilid
“ Terus gimana? Lu masih ada feeling sama dia?” sahut temannya yang lain.
“ Kayaknya sih iya nih. Gua masih suka sama dia.” jawab Lilid
Mendengar perkataan  Lilid itu, dengan cepat aku mengirim pesan melalui BBM (BlackBerry Messanger) ke Yuni.
Waktu semakin larut. Kami pun tertidur lelap. 
Sinar mentari mulai menyinari setiap jendela kamar kami. Kami segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan perpisahan kami. Tujuan kami selanjutnya adalah Danau Situpatengan. Seluruh rombongan berkumpul di aula untuk sarapan pagi. Setelah selesai sarapan bersama, kami bergegas untuk menuju bis di parkiran. Sebelum masuk bis, aku dan Yuni membeli sebuah cendramata berupa celengan lukis yang dapat diukir nama pembelinya.
Saat kami membelinya, Yuni ditemani oleh Ardea. Ardea menunggu Yuni hingga selesai mengukir celengan lukisnya itu.
Setelah selesai, kami segera masuk bis dan melanjutkan perjalanan kami ke Danau Situpatengan. Beberapa jam perjalanan, akhirnya kami pun sampai di Danau Situpatengan. Disana kami berfoto-foto karena pemandangannya sangat indah. Kami naik ke atas batu besar dan memotret semua hal yang kami anggap itu indah dan tidak ada di Jakarta.
Tidak sadar hari sudah semakin sore, kami beserta rombongan segera membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah dan segera kembali ke bis untuk perjalanan pulang ke Jakarta. Di sana, aku dan Yuni membeli sebuah tas yang sama. Warna dan modelnya sama. Dan kami juga membeli celana panjang yang sama.
Setelah berkeliling untuk membeli oleh-oleh, kami kembali ke bis. Menunggu semua rombongan siap, ternyata salah seorang anak kehilangan HPnya. Kami mencarinya bersama-sama. Disana ada seorang preman yang ternyata dia lah yang mengambil HP salah seorang rombongan kami. Kami sangat ketakutan karena pereman itu membawa batu besar untuk di lemparkan kearah kami.
Beberapa saat kemudian, salah satu guru kami meminta agar pereman itu mau berdamai. Awalnya pereman itu tidak mau. Namun, beberapa saat kemudian, setelah guru kami membujuknya, pereman itu pun akhirnya mau berdamai.
Setelah kejadian itu, kami langsung kembali ke dalam bis untuk melanjutkan perjalanan pulang. 
Setelah sampai di Jakarta, aku mengirim pesan kepada pacar Ardea. Isi dari pesannya adalah “ hey Alma (nama pacar Ardea), lu mau tau ga apa yang dilakuin Ardea waktu kita perpisahan?”
Pacar Ardea menjawab pesan dari aku itu.
“ Emang Ardea ngapain kak? Dia macem-macem?” jawab pacar Ardea terhadap pesan yang dikirim oleh ku.
“ Ardea pas di kolam suap-suapan bakso sama Lilid. Terus Lilid bilang dia masih suka sama Ardea.” Balas ku.
“ Ardea apa-apaa si kak, udah tau aku disini lagi sakit. Sekarang aku lagi berobat di Singapura.” balas pacar Ardea.
“ Loh emang kamu sakit apa dek?” jawab ku.
“ Aku sakit kanker lambung kak. Minta doanya ya kak, bilangin Ardea jangan kaya gitu. Suruh Ardea BBM aku kak.” jawab pacar Ardea.
“ Ya Allah. Semoga cepet sembuh ya dek. Iya nanti aku suruh Ardea BBM kamu.” jawab ku.
“ Makasih ya kak.” jawab pacar Ardea. 
Pembicaraan mereka berhenti. Aku pun mengirim pesan kepada Ardea.
Keesokan harinya, Lilid dan Ardea menemui kami. Mereka memarahi kami. Mereka mengira kami memberi berita yang salah kepada Alma pacar Ardea. Lilid yang menangis-nangis dihadapanku dan aku hanya tersenyum dengan heran. Dan mereka pun mengakui kesalahan mereka saat di vila. Lilid mengakui bahwa dia masih suka dengan Ardea. Ardea pun terkejut dan mulai menjauhi Lilid. Dan mereka meminta maaf pada aku dan Yuni.
Sejak kejadian itu, Yuni mulai melupakan rasa sukanya pada Ardea.
Setelah pengumuman kelulusan, aku, Yuni, Tika, Sarah, dan Dika tetap menjadi sahabat dan akan selalu menjadi sahabat. Kami membuat kelompok sahabat kami dengan nama “ADDSYZ” yang merupakan singkatan-singkatan dari nama kami. Hingga detik ini dan seterusnya kami tetap menjadi sahabat. Kami tetap berkumpul bersama meskipun sekarang kami semua berbeda-beda sekolah. Kami tetap saling kabar mengabari. Tetap bermain, mengerjakan tugas sekolah dan lain sebagainya bersama.
Terima kasih kawan. Kalian telah memberika semua lukisan cerita masa-masa SMP kita dahulu. Semua itu tidak akan terlupakan bahkan aku tulis cerita kita dalam lembaran-lembaran cerita pendek ini.
Semoga kita terus dan tetap akan menjadi “SAHABAT”

by  :   Zulia Fernika Dewi

No comments:

Post a Comment