Cerpen
This is My Story
Sebelum
bersekolah di SMA Budi Luhur, aku bersekolah di SMP 176 Jakarta. Awal masuk
sekolah aku berkenalan dengan seorang cewek. Cewek itu bernama Tri Wahyuni
Suharyati yang akrab di sapa Yuni. Sepanjang hari di sekolah, aku selalu
bermain bersama dia. Dia adalah teman yang baik. Dia sangat mudah bergaul, dan
dia adalah cewek yang pandai.
Suatu hari,
aku sedang ada tugas bahasa inggris. Aku pun bertanya kepadanya karena aku tahu
bahwa dia pintar bahasa inggris.
“ Yuni, ini
gimana cara ngerjainnya?” tanya aku
padanya.
“ Aku ga
tau, kamu tanya yang lain aja.” jawab yuni.
Sejenak aku
mulai termenung dengan ucapan Yuni, apa dia tidak menganggapku teman lagi.
Sehingga dengan mudah dia menjawab seperti itu. Padahal dia mengerti bagaimana
cara mengerjakannya. Sejak kejadian itu, aku perlahan mulai menjauhinya. Aku
juga tidak mau berbicara dengannya. Bahkan aku pun tidak mau menyapanya. Aku
sudah terlanjur marah padanya. Akhirnya, aku mulai mencari teman baru. Dan aku
berkenalan dengan seorang cewek bernama Aditya Dwi. Akrab disapa Dita.
“ Hey, boleh
kenalan gak? Aku Zulia. Kamu siapa?” sapa aku pada Dita.
“ Hey juga.
Boleh kok. Aku Aditya, akrab di panggil Dita.” jawab Dita
Aku dan Dita
berteman baik. Dita adalah seorang teman yang baik. Dia tidak pelit dan dia mau
mengajarkan aku jika aku tidak mengerti apa yang disampaikan guru di kelas.
Setiap hari kami selalu bersama. Selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
Terkadang aku yang menjemputnya. Aku dan dia selalu menghabiskan waktu
bersama.
Pada suatu
hari, kami diberi tugas untuk membuat mading di sekolah. Kami berdua menjadi satu kelompok. Kami mengerjakan
tugas itu bersama-sama. Kami membeli bahan-bahannya bersama. Kami membuat
designnya bersama. Hingga hasilnya pun sangat memuaskan. Kelompok kami pun
menjadi juara 1 membuat mading antar kelas dengan tema “Hari Pendidikan”.
Hingga pada
suatu ketika, ujian kenaikan kelas pun tiba. Dita naik ke kelas 8 C sedangkan
aku naik ke kelas 8 D. Awalnya kita tetap saling bersama. Tetapi seiring
berjalannya waktu, kami semakin menjauh. Dita seorang yang mudah marah, dan aku
selalu buat salah. Saat pulang sekolah, aku lupa menjemputnya di kelas karena
aku pulang bersama teman-teman di kelas 8 D. Keesokan harinya, Dita tidak ingin
berbicara dengan ku lagi karena dia marah aku sudah meninggalkannya.
Lambat laun
masalah itu terus berkelanjutan. Dita semakin menjauhi ku. Dia lebih memilih
bermain dengan teman-teman barunya di
kelas 8 C. Dia sudah melupakanku dan melupakan pertemanan kita dulu. Dia sudah
tidak mau pulang bersama ku lagi.
Karena dia bertindak seperti itu, dan aku pun
lelah mendekatinya kembali dengan hasil kosong. Aku pun mulai bermain dengan
teman-temanku di kelas 8D. Aku bermain dengan Yuni yang dulu aku jauhi karena
dulu aku berpikir bahwa dia itu jahat. Ternyata aku salah. Setelah kami semakin dekat, aku pun baru menyadari bahwa
Yuni tidak seperti yang aku kira. Yuni itu teman yang baik, berpikir luas dan
tidak mudah marah seperti Dita. Dia sangat humoris, aku pun nyaman bermain
dengannya.
Aku dan dia
selalu bermain bersama, pulang sekolah bersama, mengerjakan tugas bersama, dan
praktikum bersama. Aku dan dia sering duduk bersama jika teman sebangku kami
tidak masuk sekolah. Atau kami bertukar tempat dengan teman sebangku kami agar
aku dan Yuni duduk bersama.
Aku dan dia
sering curhat tentang orng yang kami sukai di kelas 8. Saat itu, Yuni menyukai
seorang cowok bernama Bagus. Dan aku menyukai seorang cowok bernama Alby. Yuni
memberikan perhatian lebih pada Bagus. Tetapi bagus tidak kunjung “peka” dengan semua perhatian yang Yuni berikan. Sedangkan
aku yang suka dengan Alby tidak terlalu menunjukan bahwa aku suka dengannya.
Alby adalah cowok yang manis, baik, pintar, lucu, tetapi dia sangat pendiam.
Karena aku
dan Yuni sering sekali main ledek-ledekan . Pada akhirnya para cowok pun
mengetahui. Memang mereka para cowok mengetahui rasa suka kami. Tetapi rasa
suka kami tidak terbalaskan. Kami pun mencoba melupakan mereka.
Selama
kurang lebih 11 bulan kami di kelas 8. Ujian semester 2 pun tiba. Aku naik ke
kelas 9C, sedangkan Yuni naik ke kelas 9A. Meskipun kami beda kelas, kami tetap
selalu bersama. Kemanapun kami selalu bersama biarpun terkadang salah satu
antara kami harus menyelesaikan tugas di kelas kami tetap saling menunggu.
Beberapa
minggu kemudian, aku dikenalkan dengan beberapa orang teman di kelasnya. Dan
salah seorang temannya yang juga teman lamaku di saat aku SD. Nama cewek yang
dulu menjadi temanku sewaktu SD adalah Dika. Dan yang lainnya aku tidak
mengenal mereka sebelumnya.
“ Zul, nih
kenalin teman aku di kelas, baik kok anaknya.” ujar Yuni dengan menggandeng tangan
teman barunya.
“ Oh, iya
Yun. Kenalin aku Zulia. Kamu ?” jawabku sambil mengangkat tanganku di hadapan
temannya.
“ Aku Atika,
panggil aja Tika.” jawab teman baru Yuni itu.
“ Nih ada
satu lagi. Pacarnya Jae tuh Zul.” sahut Yuni setelah melihat aku dan Tika
berjabat tangan.
“ Hai, aku Sarah.” jawab temannya yang satu
lagi.
“ Hai juga,
aku Zulia.” sahut aku atas perkenalannya itu.
Yuni juga
mengenalkan satu temannya sejak dia SD. Nama temannya itu Dian. Dia baik, lucu,
meski terkadang dia alay. Tapi dia tetap teman yang baik menurut ku.
Sejak
perkenalan itu, kami pun menjadi teman baik. Kemanapun kami pergi selalu
bersama. Pada akhirnya, aku, Yuni, Tika, Dika, Dian dan Sarah bersahabat.
Hingga pada suatu hari, Yuni bercerita pada kami bahwa di kelasnya ada seorang
cowok yang disukainya. Nama cowok itu Ardea. Ardea itu cowok yang baik, lucu
tetapi tetap saja semua cowok itu sama, sama-sama tidak “Peka”.
Berkali-kali
aku, Dika, Tika dan Sarah mengejeknya dengan frontal memberitahu bahwa Yuni
menyukainya. Tapi tanggapannya hanya datar saja.
“ Apaan sih
lo. Gosip aja lo.” jawab Ardea dengan raut wajah yang datar.
“ Tau nih,
apaan sih kamu pada, jangan frontal kenapa ih, gaenak sama Ardeanya.” tambah
Yuni atas jawaban dari Ardea.
“ Yaelah,
gausah malu-malu. Kalau emang suka mah bilang Yun, ntar keburu diambil orang
baru nyesel.” ujar Tika.
Beberapa
hari kemudian, kami mengetahui bahwa Ardea sudah memiliki pacar. Pacarnya itu
adik kelas kami. Kami mengenal baik pacarnya itu. Mendengar hal itu, Yuni tetap
saja menyukai cowok itu. Hingga pada saat UN tiba, Yuni tetap saja memberikan
perhatiannya pada cowok itu. Setelah UN, seluruh anak kelas 9 mengadakan
perpisahan sekolah. Tujuan kami ke sebuah tempat yang sangat indah. Tujuan
pertama kami yaitu Ciwidey di daerah Bandung.
Disana kami
menginap di beberapa vila yang telah disiapkan oleh para panitia. Aku dan
teman-temanku berpisah disana. Karena kami berbeda kamar. Aku satu kamar dengan
sahabatnya Ardea yang juga pernah menjadi pacarnya Ardea. Nama sahabatnya itu
Lidyawati yang biasa di sapa Lilid. Di kamar itu aku juga sekamar dengan
teman-teman Lilid.
Malam pun
tiba, kami seluruh rombongan berkumpul di sebuah kolam yang disediakan disertai
api unggun di tengah-tengah taman. Disana aku dan Yuni melihat Ardea memakan
semangkuk bakso bersama Lilid. Lilid disuapi bakso oleh Ardea. Melihat kejadian
itu, aku dan Yuni memotret saat kejadian itu.
“ Yun, foto
Yun foto. Bakal jadi berita hot nih.” aku mengajak Yuni untuk memotret kejadian
itu.
“ Ide bagus
tuh, ayulah foto, HP mana HP.” sahut Yuni dengan cepat.
Setelah
memotret kejadian itu, aku menyimpan foto mereka di memori kameraku. Suasana
semakin larut, kami beserta rombongan segera kembali ke kamar. Setelah sampai
di kamar masing-masing kelompok, aku mendengarkan perbincangan antar Lilid
dengan teman-temannya.
“
Lid, gimana tadi disuapin Ardea?” tanya salah satu temannya.
“
Aapaan sih lu, seneng sih, hahaha.” jawab Lilid
“ Terus
gimana? Lu masih ada feeling sama dia?” sahut temannya yang lain.
“ Kayaknya
sih iya nih. Gua masih suka sama dia.” jawab Lilid
Mendengar
perkataan Lilid itu, dengan cepat aku
mengirim pesan melalui BBM (BlackBerry Messanger) ke Yuni.
Waktu
semakin larut. Kami pun tertidur lelap.
Sinar
mentari mulai menyinari setiap jendela kamar kami. Kami segera bersiap-siap
untuk melanjutkan perjalanan perpisahan kami. Tujuan kami selanjutnya adalah
Danau Situpatengan. Seluruh rombongan berkumpul di aula untuk sarapan pagi.
Setelah selesai sarapan bersama, kami bergegas untuk menuju bis di parkiran.
Sebelum masuk bis, aku dan Yuni membeli sebuah cendramata berupa celengan lukis
yang dapat diukir nama pembelinya.
Saat kami membelinya,
Yuni ditemani oleh Ardea. Ardea menunggu Yuni hingga selesai mengukir celengan
lukisnya itu.
Setelah
selesai, kami segera masuk bis dan melanjutkan perjalanan kami ke Danau
Situpatengan. Beberapa jam perjalanan, akhirnya kami pun sampai di Danau
Situpatengan. Disana kami berfoto-foto karena pemandangannya sangat indah. Kami
naik ke atas batu besar dan memotret semua hal yang kami anggap itu indah dan
tidak ada di Jakarta.
Tidak sadar
hari sudah semakin sore, kami beserta rombongan segera membeli oleh-oleh untuk
keluarga di rumah dan segera kembali ke bis untuk perjalanan pulang ke Jakarta.
Di sana, aku dan Yuni membeli sebuah tas yang sama. Warna dan modelnya sama.
Dan kami juga membeli celana panjang yang sama.
Setelah
berkeliling untuk membeli oleh-oleh, kami kembali ke bis. Menunggu semua
rombongan siap, ternyata salah seorang anak kehilangan HPnya. Kami mencarinya
bersama-sama. Disana ada seorang preman yang ternyata dia lah yang mengambil HP
salah seorang rombongan kami. Kami sangat ketakutan karena pereman itu membawa
batu besar untuk di lemparkan kearah kami.
Beberapa
saat kemudian, salah satu guru kami meminta agar pereman itu mau berdamai.
Awalnya pereman itu tidak mau. Namun, beberapa saat kemudian, setelah guru kami
membujuknya, pereman itu pun akhirnya mau berdamai.
Setelah
kejadian itu, kami langsung kembali ke dalam bis untuk melanjutkan perjalanan
pulang.
Setelah
sampai di Jakarta, aku mengirim pesan kepada pacar Ardea. Isi dari pesannya
adalah “ hey Alma (nama pacar Ardea), lu mau tau ga apa yang dilakuin Ardea
waktu kita perpisahan?”
Pacar Ardea
menjawab pesan dari aku itu.
“ Emang
Ardea ngapain kak? Dia macem-macem?” jawab pacar Ardea terhadap pesan yang
dikirim oleh ku.
“ Ardea pas
di kolam suap-suapan bakso sama Lilid. Terus Lilid bilang dia masih suka sama
Ardea.” Balas ku.
“ Ardea
apa-apaa si kak, udah tau aku disini lagi sakit. Sekarang aku lagi berobat di
Singapura.” balas pacar Ardea.
“ Loh emang
kamu sakit apa dek?” jawab ku.
“ Aku sakit
kanker lambung kak. Minta doanya ya kak, bilangin Ardea jangan kaya gitu. Suruh
Ardea BBM aku kak.” jawab pacar Ardea.
“ Ya Allah.
Semoga cepet sembuh ya dek. Iya nanti aku suruh Ardea BBM kamu.” jawab ku.
“ Makasih ya
kak.” jawab pacar Ardea.
Pembicaraan
mereka berhenti. Aku pun mengirim pesan kepada Ardea.
Keesokan
harinya, Lilid dan Ardea menemui kami. Mereka memarahi kami. Mereka mengira
kami memberi berita yang salah kepada Alma pacar Ardea. Lilid yang
menangis-nangis dihadapanku dan aku hanya tersenyum dengan heran. Dan mereka
pun mengakui kesalahan mereka saat di vila. Lilid mengakui bahwa dia masih suka
dengan Ardea. Ardea pun terkejut dan mulai menjauhi Lilid. Dan mereka meminta
maaf pada aku dan Yuni.
Sejak
kejadian itu, Yuni mulai melupakan rasa sukanya pada Ardea.
Setelah
pengumuman kelulusan, aku, Yuni, Tika, Sarah, dan Dika tetap menjadi sahabat
dan akan selalu menjadi sahabat. Kami membuat kelompok sahabat kami dengan nama
“ADDSYZ” yang merupakan singkatan-singkatan dari nama kami. Hingga detik ini
dan seterusnya kami tetap menjadi sahabat. Kami tetap berkumpul bersama
meskipun sekarang kami semua berbeda-beda sekolah. Kami tetap saling kabar
mengabari. Tetap bermain, mengerjakan tugas sekolah dan lain sebagainya
bersama.
Terima kasih
kawan. Kalian telah memberika semua lukisan cerita masa-masa SMP kita dahulu.
Semua itu tidak akan terlupakan bahkan aku tulis cerita kita dalam
lembaran-lembaran cerita pendek ini.
Semoga kita
terus dan tetap akan menjadi “SAHABAT”
by : Zulia Fernika Dewi
No comments:
Post a Comment